Trubus 443 – Oktober 2006

Sebuah selang halus berdiamater 3 milimeter  ditanam di dalam dada Yusni Mansyur yang terbius. Selang kateter itu terus berjalan perlahan hingga pembuluh darah koroner. Akhirnya tertangkap gambar, tiga bagian jantungnya tak berfungsi lantaran tersumbat lemak.

Yusni tak pernah menyangka kegemarannya mengasup makanan laut berujung derita. Udang dan cumi memang hampir tak pernah absen di meja makan. Sebab, ”Bagi saya, semua makanan itu sehat, tak ada yang membuat penyakit,” kata pria kelahiran Aceh itu. Makanya, makanan kaya lemak dikonsumsinya tanpa menghiraukan kondisi tubuh yang semakin senja.

Hingga pada 1996, jantung pria kelahiran 10 Agustus 1948 itu berdenyut tak beraturan, tekanan darah menurun, kerap pusing, dan gemetar. Rasa nyeri di bawah tulang dada sebelah kiri pun semakin lama kian berat. Ia tak sadarkan diri. Pengajar Sekolah Perawat Kesehatan di Langsa, Aceh itu lantas dibawa ke rumah sakit terdekat. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan, nilai kolesterolnya 300 mg/dl, kadar normal di bawah  160 mg /dl. Ia divonis mengidap jantung koroner.

Lidah Pelo

Menurut Prof. Dr. Dr. Budi Setianto, SpJP(K) dari Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, jantung koroner berhubungan dengan pembuluh darah koroner yang mengalirkan darah ke otot-otot jantung. Orang berusia 10-20 tahun, mulai timbul guratan-guratan lcmak pada pembuluh. “Akibat kolesterol tinggi, pembuluh darah menvempit karena tumpukan lemak.” kata Budi Setianto.

Sepekan setelah menjalani perawatan di rumah sakit, Yusni pulang ke rumah. Walau nilai kolesterol berangsur turun, Yusni masih sering lelah, sesak, nyeri dada, dan pusing. Sapura, istri Yusni, sering melihat suaminya ketakutan dan gemetar akibat cemas akan kematian. Hingga akhirnya. Yusni terkena stroke. Lidahnya pelo tak mampu digerakkan, apalagi berbicara.

Pengobatan berlanjut di Rumah sakit Adam Malik, Medan. Diagnosis ahli medis menyebut Yusni terserang stroke akibat aliran darah tersumbat. Obat obatan yang diberikan bersifat thrombolitik, penghancur trombus yang menyumbat pembuluh darah koroner, dan penvebab otot jantung kekurangan oksigen. Termasuk sebutir tablet cedocard, penghilang nyeri yang kerap diletakkan di bawah lidah.

Yusni tetap tak marnpu berbicara selarna 2 minggu perawatan. Dokter menyarankan agar ia tak menggerakkan lidah supaya tak cepat lelah. Kondisi Yusni memang terlihat lebih parah. Selain penutup yang berteng,ger di hidung untuk terapi oksigen, di dadanya terpasang elektrokardiograf (EKG). Fungsi alat itu    mengetahui perubahan    irama jantung terutama pada saat-saat    serangan jantung.

Bypass

Empat tahun rutin merninum obat-obatan dokter, tapi kesembuhan bagai api iauh dari panggang. Dokter yang menanganinva angkat tangan. “Obat sudah dimakan tetapi kok cuma meredam. Penyakitnva malah lebih parah,” kata Yusni. Akhirnya ia dirujuk ke sebuah rumahsakit jantung di Jakarta. Kali ini spesialis jantung menduga beberapa katup jantung Yusni bocor. Kateter pun dilakukan untuk pembuktian. Selang dimasukkan ke dalam lipatan lengannya, lantas sedikit demi sedikit mencapai pembuluh darah koroner. Zat kontras disemprotkan agar sinar x dapat merekam kondisi pembuluh darah koroner.

Ternyata bukti menunjukkan lemak menyumbat sebagian besar aliran darah ke jantung. Akibatnya jantung kiri 99% rusak, sedangkan kedua bilik jantung sebelah kanan hanya 5% berfungsi. Solusi dokter operasi bypass. pass.
Pembuluh darah sehat di kaki atau tangan dicangkokkan pada pembuluh darah koroner tersebut. Melalui operasi itu diharapkan seutuhnya aliran darah ke otot jantung akan kembali, dan keluhan nyeri dada sirna. Sayang, biayanya mahal.

Lantaran terimpit biaya, operasi bypass dilupakan. Yusni memilih beralih ke pengobatan alternatif. Beberapa sinse didatangi, beragam herbal dikonsumsi.    Namun, kesembuhan sulit digapai. Yusni hanya berbaring di tempat tidur dan berbicara pun hanya sesekali. Harapan untuk sembuh sangat tipis, sehingga ia seolah tinggal menunggu ajal tiba.
Secercah asa datang. Pada awal 2006, Sapura membaca Trubus tentang khasiat teripang memperbaiki kondisi pengidap jantung bocor. Atas saran istri, Yusni mengkonsumsinya 2 kali sehari masing-¬masing 2 sendok. Sepekan kemudian, efeknya mulai terasa. Badan lebih segar dan nilai kolesterol berangsur turun di bawah 160 mg/dl. Ia yakin jantungnya telah berfungsi normal.

Terasa kondisinya sehat, Yusni mulai mengajar kembali di Akademi Perawat Langsa, Aceh setelah lama ditinggalkannya. Bahkan, “Ia sudah sanggup bersepeda setiap hari 10 km,” tutur Sapura.

Kaya Asam amino

Ekstrak teripang mampu mengatasi jantung koroner lantaran kandungan 11 asam amino. Sativa laut itu mengandung miristat, palmitat, palmitoleat, stearat, oleat, linoleat, arakhsidat, eicosapentaenat, behenat, erusat, dan docosahexaenat.

Asam lemak itulah Yang diduga mempercepat penyembuhan luka di jantung. Kandungan asam eicosapentaenat    (EPA) dan asam docosahexaenat (DHA)    relatif tinggi, masing-masing 25,69% dan 3,69%. Nilai EPA besar menandakan kecepatan teripang memperbaiki jaringan rusak dan menghalangi pembentukan prostaglandin penyebab radang tinggi. Konsumsi DHA tinggi menurunkan trigliserida darah penyebab penyakit jantung.

Kandungan lain adalah Mucopolusacharida (MPS) populer sebagai Glycosaminoglycans (GAGs). “MPS bersama GAGs memberikan efek lendir pada dinding sel,” kata Dr. Muhilal, ahli gizi dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi, Bogor. Artinya teripang berfungsi sebagai antithrombogenik untuk mencegah penggumpalan melalui pengenceran darah.

Menurut Valentine A dari Russian Academy of Sciences, Vladivostok, Rusia, membuktikan zat dalam teripang yang berpengaruh menurunkan kolesterol adalah sterol. Hal itu sejalan dcngan penelitian di School of Dietetics and Human Nutrition, McGill University, Kanada. Di instansi itu, Ling WH membuktikan sterol mampu menghadang absorpsi kolesterol pada pembuluh darah manusia yang berakibat penurunan 15% jumlah kolesterol darah.

Dibarengi dengan pola makan yang tepat dan olahraga teratur, bukan tak mungkin gamat membantu mempercepat kesembuhan Yusni melalui penyerapan kolesterol.

(Vina Fitriani).